Jumat, 12 September 2014

Sejarah Lingkungan Indonesia

          Kajian sejarah lingkungan belum banyak dikenal di Indonesia. Memang pembahasan mengenai aspek-aspek lingkungan dalam analisis sejarah sudah dijumpai dalam beberapa karya. Satu kajian yang paling berpengaruh adalah Clifford Geertz (1963). Geertz beragumentasi bahwa permintaan tanah dan tenaga kerja perkebunan yang meningkat menyebabkan petani Jawa menjadi statis. Alih-alih bergerak maju, mereka mengalami pertumbuhan tanpa perkembangan akibat kemampuan pertanian padi untuk menyerap angkatan kerja yang tumbuh seolah tanpa batas. Dengan penduduk yang terus meningkat dan peluang yang terbatas untuk perluasan tanah pertanian, proses pembagian kemiskinan (shared poverty) diantara kaum petani mengahmbat perkembangan pertanian di Jawa.


Pandangan Geertz melahirkan sejumlah kritik. Kritik atas pandangan Geertz dikemukakan misalnya oleh Arthur van Schaik (1986). Karya ini membahas kesuburan tanah yang merosot sebagai bagian dari argumen yang menentang asumsi-asumsi dasar teori Geertz, khususnya gagasan stabilitas ekologi sawah di Jawa akibat sistem irigasi yang baik. Kritik juga dilontarkan oleh Anne Booth (1988). Booth menyoroti ekspansi areal pertanian untuk memperlihatkan perkembangan bertahap sektor pertanian di Indonesia dan menyanggah teori Geertz.
Demikian pula, Pierre van der Eng (1996) menyebut isu-isu yang terkait dengan perluasan lahan pertanian ke dataran tinggi dan bahaya ekologisnya, dan pertimbangan-pertimbangan lingkungan bagi kaum tani atas pilihan-pilihan tanaman dalam karyanya mengenai pertumbuhan produktivitas dan dampak kebijakan terhadap pertanian Indonesia. Karya Van der Eng merupakan bagian dari penentang teori involusi pertanian Geertz. Dalam karyanya mengenai Tengger, Robert Hefner (1999) secara umum menyinggung dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pertanian komersial. Meskipun isu-isu lingkungan telah muncul dalam berbagai karya, perlu digaris bawahi di sini bahwa mayoritas studi yang telah dilakukan lebih menempatkan isu-isu lingkungan sebagai unsur pendukung atau ilustrasi untuk memperkuat analisis yang mereka lakukan dan argumentasi yang mereka bangun, ketimbang sebagai fokus utama pembahasan.
Baru dalam dua dasa warsa terakhir ranah kajian sejarah lingkungan Indonesia mulai dijelajahi secara sistematis. Upaya ke arah ini terwujud dalam proyek penelitian sejarah yang dikerjakan oleh Koninklijk Linguistics voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Royal Institute of Linguistics and Anthropology, KITLV), Amsterdam Belanda yang dinamakan EDEN (Ecology, Demography, and Economy in Nusantara) mulai 1992. Proyek ini dipimpin oleh Prof. Peter Boomgaard. Sejumlah publikasi mengenai sejarah lingkungan Indonesia sebagai bagian dari Proyek EDEN memberi kontribusi penting dalam membuka wawasan dan memberi pemahaman lebih baik akan isu-isu menyangkut hubungan manusia-lingkungan di negeri ini.
Karya yang disunting Peter Boomgaard, David Henley dan Freek Colombijn (1997) bejudul Paper Landscapes membuka wawasan mengenai sejarah lingkungan. Karya ini antara lain membahas beragam penggunaan sumber daya hutan di berbagai tempat terpisah di kepulauan Indonesia. Karya serupa dengan pembahasan yang lebih berimbang mengenai sumber daya hutan dan maritim, serta dengan lebih banyak penekanan pada periode kontemporer juga telah dihasilkan, yakni karya yang disunting Peter Boomgaard, David Henley, dan Manon Osseweijer (2005), berjudul Muddied Waters.
Dari proyek EDEN juga telah terbit beberapa monografi penting mengenai sejarah lingkungan. Diantaranya adalah karya Han Knapen (2001), Forest of Fortune?, yang membahas tentang sejarah lingkungan di Kalimantan dan karya David Henley (2005), Fertility, Food and Fever, mengenai sejarah lingkungan pada suatu daerah di Sulawesi. Karya-karya ini membuka wawasan mengenai bagaimana proses-proses demografis dan sosio-ekonomis dikembangkan dan akhirnya mengubah realitas lingkungan di berbagai tempat di luar Jawa selama periode kolonial. Karya Boomgaard (2001) Frontiers of Fear menyingkap pandangan mengenai harimau dan hubungan manusia-harimau di Indonesia masa kolonial dan di Melayu. Selanjutnya tulisan Jet Bakels (1993), mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam liar (wilderness).
Berbagai studi sejarah lingkungan yang telah ada kebanyakan memusatkan perhatian pada wilayah luar Jawa. Bungan rampai yang disunting Victor T. King (1998), membahas berbagai masalah sejarah lingkungan yang terkait dengan citra pertanian dibalik kebijakan-kebijakan kolonial, adaptasi lingkungan, lingkungan penyakit, dan perubahan dalam penggunaan tanah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Kebanyakan artikel dalam bunga rampai rintisan tentang sejarah lingkungan Indonesia memfokus pada pulau-pulau luar Jawa. Kritik atas perlakuan yang tidak seimbang dan cenderung berat mengarah ke pulau-pulau luar Jawa dalam konteks kehutanan juga telah dilontarkan Nancy Lee Peluso (1992).
Tambahan lagi, berbagai kajian yang ada juga menciptakan kesan kuat bahwa permasalahan lingkungan baru muncul belakangan ini di Indonesia, tanpa mempunyai akar historis dalam periode sebelumnya. Dalam kasus kehutanan misalnya, kerusakan hutan sering dikaitkan dengan kebijakan Orde Baru. Demikian pula, beberapa pengamat lain secara terpisah mencatat bahwa Revolusi Hijau di bawah Orde Baru menyebabkan meningkatnya tanah-tanah kritis, polusi air, dan deforestasi. Sementara itu, Jan Palte (1989) menegaskan bias sawah kebijakan pertanian Orde Baru merupakan faktor utama yang bertanggung jawab bagi rusaknya lingkungan. Sekalipun hingga tingkat tertentu pandangan semacam ini mencerminkan kenyataan dan mempunyai validitas, pemahaman atas sejarah Indonesia yang dihasilkan jauh dari seimbang antar wilayah dan waktu.

Penulis dan Editor : Endar Mei Candra
Sumber :

                Nawiyanto.2012. Pengantar Sejarah Lingkungan. Jember: UPT Penerbitan UNEJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar