Selasa, 23 September 2014

Indische Partij

Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25 Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes DekkerTjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Maksudnya adalah untuk mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indonesia). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.


"Tindakan Revolusioner memungkinkan orang untuk mencapai tujuan mereka dengan cepat. Tentunya hal ini tidak bermoral [...] The Indische Party aman dapat disebut revolusioner. Kata seperti ini tidak menakut-nakuti kami [...]" Douwes Dekker.
Meskipun berumur pendek dan mengumpulkan sedikit lebih dari 7.000 anggota, pengaruhnya sebagai partai politik multi-rasial pertama yang menyatakan secara jelas, pada saat yang radikal, jauh menjangkau gagasan kemerdekaan. Tujuannya IP adalah untuk menyatukan semua penduduk asli Indonesia dalam perjuangan untuk bangsa yang merdeka. Ketika IP dilarang dan kepemimpinannya diasingkan, anggota IP mendirikan “Insulinde” yang sama radikalnya.

Yayasan 1912
Di bawah slogan "Indie voor Indiers" keanggotaan dibuka untuk Indo-Eropa, pemukim permanen Belanda, pribumi Indo-Cina dan semua masyarakat adat. Terinspirasi oleh peran utama “Eurasia Ilustrados” dalam perjuangan kemerdekaan di Filipina, IP membayangkan peran pemersatu yang sama untuk orang Indonesia. Lebih 5.000 orang dari 7.000 anggotanya adalah orang Indonesia.

E.F.E Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi

Namun Douwes Dekker juga memperingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak membawa pada gagasan rasis diindoktrinasi oleh sistem kolonial.
[...] kebijakan kolonial dan moralitas kolonial busuk. Hal ini tentu membuat Indische Partij bertujuan dalam perjuangan melawan superioritas rasial dan diskriminasi rasial [...] Ini akan memberikan dorongan terakhir untuk membuat pohon rasial diskriminasi kecelakaan ke bumi [...] Tapi ketika Indo campuran darah mengeluh tentang superioritas rasial ini mereka harus berhati-hati untuk tidak bersalah diri dari dosa yang sama sehubungan dengan penduduk asli pribumi. Mereka harus menyadari bahwa ide-ide artifisial ditanamkan dari milik kelas penguasa lakukan tidak berarti memberikan mereka hak untuk memandang rendah kelas (adat) Indiers dengan siapa mereka terikat bersama-sama dengan rantai bisa dipecahkan [...] Douwes Dekker.

Tjipto Mangoenkoesoemo

Pada tahun 1912 penghapusan sekolah Batavia Pegawai Negeri Sipil dari Hindia Belanda dan larangan mendirikan sekolah medis untuk Indo-Eropa dan Indo-China telah memberikan kontribusi terhadap arus bawah yang kuat ketidakpuasan dan jumlah keanggotaan IP yang meningkat dengan cepat. Dalam sebulan majalah, Partai memiliki 1.000 pelanggan yang membayar. Dalam takut edisi bahasa Melayu dan kolaborasi dengan 'Sarekat Islam' penguasa kolonial meningkatkan upayanya untuk melarang IP.

Pelarangan 1913
Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda). Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Expres tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan. Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga Serangkai, Douwes Dekker mengkritik dalam tulisan di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat)

Soewardi Soerjadiningrat atau Ki Hajar Dewantara

Secara eksplisit dan penuh semangat menentang diskriminasi rasial luas oleh elit kolonial Belanda dan asing advokasi jumlah kemerdekaan dari Belanda, pemerintah kolonial bergegas untuk merek organisasi politik subversif dan dilarang hanya 1 tahun setelah berdirinya.

Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Douwes Dekker dibuang ke KupangNTT sedangkan Dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Namun pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan dibuang ke Suriname, Amerika Selatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar