Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Agustus 2020

Manusia Purba di Indonesia dan Hasil Kebudayaannya

Assalamuaikum, selamat datang di blog saya yang sederhana ini. Kali ini saya akan menulis tentang manusia purba di Indonesia berdasarkan catatan sejarah atau dilihat dari sudut pandang pendidikan sejarah. Jadi jika ada yang keberatan dengan tulisan ini silahkan skip dan jika ada kesempatan dilain waktu saya akan mencoba menuliskan dari sudut pandang lain.

Pengertian Manusia Purba, Sejarah, Ciri, Jenis dan Kehidupan
Sumber: gurupendidikan.com

Jumat, 21 April 2017

Jaran Kencak Lumajang

Jaran Kencak adalah sebuah kesenian dari Lumajang, Jawa Timur dengan menggunakan kelincahan seekor kuda yang di hias pakaian zirah perang khas Jawa yang tersebar di Probolinggo, Jember, Banyuwangi, Bondowoso dan Tengger. Kesenian serupa adalah Jaran Jenggo di Pantura dan Kuda Renggong di Sunda.

 

Rabu, 30 September 2015

Ninja

Ninja atau Shinobi (忍者 atau 忍び) (dalam bahasa Jepang, secara harfiah berarti "Seseorang yang bergerak secara rahasia") adalah seorang mata - mata zaman feodal di Jepang yang terlatih dalam seni ninjutsu (secara kasarnya "seni pergerakan sunyi") Jepang. Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara.
http://wallpoper.com/images/00/27/32/04/

Senin, 11 Mei 2015

Review: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII - Medio Abad XX). Oleh Djoko Soekiman

Buku “Kebudayaan Indisdan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa, Abad XVIII - Medio Abad XX” ini merupakan hasil disertasi dari pak Djoko Soekiman, dosen Fakultas Sastra di UGM Yogyakarta sejak tahun 1963. Disertasinya yang mengungkap mengenai kebudayaan Indis merupakan satu-satunya buku yang mengupas mendalam mengenai kebudayaan Indis yang sudah makin punah dikarenakan peninggalan budayanya seperti bangunan mulai di runtuhkan atau di ganti dengan bangunan yang sudah modern atau di anggap lebih Indonesia.

Senin, 06 April 2015

ISLAM DI KUDUS: Sunan Kudus Sang Wali Allah di Tanah Kudus dan Masjid Agung Kudus

A.    Sunan Kudus
  • Jati Diri dan Nasab Sunan Kudus

Nama Ja'far Shadiq diambil dari nama datuknya yang bernama Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah az-Zahra binti Muhammad. Sunan Kudus sejatinya bukanlah asli penduduk Kudus, ia berasal dan lahir di Al-Quds negara Palestina. Kemudian bersama kakek, ayah dan kerabatnya berhijrah ke Tanah Jawa.

Selasa, 03 Maret 2015

Hinamatsuri (Hari Raya Bagi Anak Perempuan di Jepang)

Hinamatsuri (雛祭り, ひなまつり) atau Hina Matsuri adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyō (雛人形, ひなにんぎょう, boneka festival).
Satu set boneka terdiri dari boneka kaisarpermaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).
Walaupun disebut matsuri, perayaan ini lebih merupakan acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang memiliki anak perempuan. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial.
Hinamatsuri

Rabu, 17 September 2014

Kesenian Khas Lumajang (Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang)

      Lumajang sebagai daerah yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah dari Kerajaan Lamajang tentunya menyimpan sebuah kesenian yang menjadi khas dari Lumajang. Ada beberapa kesenian yang dimiliki oleh Lumajang. Kesenian ini pula yang menemani peristiwa dan cerita sejarah di Lumajang. Pada postingan kali ini saya akan menampilkan 3 kesenian yang dimiliki oleh Lumajang, yaitu ada Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang.
             Dibawah ini akan saya jabarkan mengenai kesenian yang sudah disebutkan di atas.

Sabtu, 13 September 2014

Kehidupan Antar Umat Beragama “Islam dan Hindu”

Indonesia memang negara yang kaya akan budaya, mulai Sabang sampai Merauke. Mulai dari pelosok desa sampai kota, semua ada kebudayaan. Ras, bahasa, agama, warna kulit, keturunan, budaya, dan perilaku adalah ciri khusus dari etnisitas.
Secara historis, kondisi kehidupan pada masa lampau telah terbina kearah terwujudnya kehidupan yang penuh toleransi, rukun dan damai antar penganut agama yang satu dengan yang lainnya. Sampai pada puncaknya pada jaman Empu Tantular, dimana peleburan diantara kedua konsep itu tertuang dalam Lontar Sutasoma dengan petikan kalimat: Riweneka datu winuwus, siwa kelawan Budha. Bhineka tunggal ika tan hana Dharma mangrua. Yang artinya: konon ceritanya dikatakan antara Hindu dan Budha berbeda, namun sesungguhnya satu. Tidak ada kebenaran yang mendua.

Jumat, 12 September 2014

Pura Mandara Giri Semeru Agung, Senduro, Lumajang

Pura Mandara Giri Semeru Agung (PMGSA) adalah pura yang terdapat di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Konon, Pura Mandiri Giri Semeru Agung dikenal sebagai tempat sakral dan dituakan kerajaan-kerajaan Hindu Bali. Meskipun baru dibangun tahun 1986, keberadaanya menjadi perhatian umat Hindu dari berbagai tempat, khususnya penganut Hindu Bali. Makanya, tidak heran kalau tempat ini setiap tahunnya menyedot perhatian puluhan ribu orang yang datang untuk melakukan upacara – upacara keagamaan dan sekaligus melakukan kunjungan wisata ritual. 


Tradisi Melasti di Pura Mandara Giri Semeru Agung Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang

Tradisi Melasti
     Tradisi Melasti adalah upacara yang dilakukan oleh umat beragama Hindu sebelum melakukan Nyepi. Upacara melasti merupakan upacara untuk menyucikan buwana agung[1] dan buwana alit[2], serta pratima-pratima Pura yang akan dipakai dalam perayaan hari raya Nyepi. Upacara melasti dilaksanakan di laut, waduk atau sumber mata air. Upacara melasti dilaksanakan pada panglong ke 13, sasih kesanga (candra).[3]