Jumat, 12 September 2014

Pura Mandara Giri Semeru Agung, Senduro, Lumajang

Pura Mandara Giri Semeru Agung (PMGSA) adalah pura yang terdapat di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Konon, Pura Mandiri Giri Semeru Agung dikenal sebagai tempat sakral dan dituakan kerajaan-kerajaan Hindu Bali. Meskipun baru dibangun tahun 1986, keberadaanya menjadi perhatian umat Hindu dari berbagai tempat, khususnya penganut Hindu Bali. Makanya, tidak heran kalau tempat ini setiap tahunnya menyedot perhatian puluhan ribu orang yang datang untuk melakukan upacara – upacara keagamaan dan sekaligus melakukan kunjungan wisata ritual. 


Tradisi Melasti di Pura Mandara Giri Semeru Agung Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang

Tradisi Melasti
     Tradisi Melasti adalah upacara yang dilakukan oleh umat beragama Hindu sebelum melakukan Nyepi. Upacara melasti merupakan upacara untuk menyucikan buwana agung[1] dan buwana alit[2], serta pratima-pratima Pura yang akan dipakai dalam perayaan hari raya Nyepi. Upacara melasti dilaksanakan di laut, waduk atau sumber mata air. Upacara melasti dilaksanakan pada panglong ke 13, sasih kesanga (candra).[3]


Sejarah Lingkungan Indonesia

          Kajian sejarah lingkungan belum banyak dikenal di Indonesia. Memang pembahasan mengenai aspek-aspek lingkungan dalam analisis sejarah sudah dijumpai dalam beberapa karya. Satu kajian yang paling berpengaruh adalah Clifford Geertz (1963). Geertz beragumentasi bahwa permintaan tanah dan tenaga kerja perkebunan yang meningkat menyebabkan petani Jawa menjadi statis. Alih-alih bergerak maju, mereka mengalami pertumbuhan tanpa perkembangan akibat kemampuan pertanian padi untuk menyerap angkatan kerja yang tumbuh seolah tanpa batas. Dengan penduduk yang terus meningkat dan peluang yang terbatas untuk perluasan tanah pertanian, proses pembagian kemiskinan (shared poverty) diantara kaum petani mengahmbat perkembangan pertanian di Jawa.

Selasa, 09 September 2014

Budi Utomo

Situasi sosial ekonomi di Jawa pada abad XIX semakin buruk setelah berganti-ganti dilaksanakan eksploitasi kolonial tradisional, liberal, dan etis. Semakin derasnya westernisasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial maka perubahan sosial masyarakat tidak dapat dibendung lagi. Di satu pihak batig saldo yang diperoleh pemerintah dialirkan ke Belanda dan di pihak lain kemelaratan dan kesengsaraan makin dalam melekat di hati msayarakat Indonesia.


dr. Wahidin Sudirohusodo

Minggu, 29 Juni 2014

Pasca Perang Diponegoro “Keadaan Yogyakarta dan Surakarta Pasca Perang Diponegoro Tahun 1830-1834”

       Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi Indonesia dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
           Perang Diponegoro tidak berakhir hanya begitu saja. Banyak sekali dampak yang diakibatkan setelah berakhirnya Perang Diponegoro ini kepada pemerintah Hindia-Belanda. Selain itu, Yogyakarta dan Surakarta juga mendapat imbas dari berakhirnya Perang Diponegoro ini.