Jumat, 19 September 2014

Johannes Kepler (Astrofisikawan Teoretikal Pertama)

Johannes Kepler (27 Desember 1571 – 15 November 1630), seorang tokoh penting dalam revolusi ilmiah, adalah seorang astronom Jerman, matematikawan dan astrolog. Dia paling dikenal melalui hukum gerakan planetnya. Dia kadang dirujuk sebagai "astrofisikawan teoretikal pertama", meski Carl Sagan juga memanggilnya sebagai ahli astrologi ilmiah terakhir.
Orang Eropa abad ke-16 sangat mengagumi komet. Maka, pada suatu malam, sewaktu sebuah komet yang dipopulerkan oleh astronom Denmark Tycho Brahe terlihat di langit, Katharina Kepler membangunkan putranya, Johannes, yang berusia enam tahun untuk menyaksikan komet itu. Pada usia 29 tahun, Johannes Kepler menjadi matematikawan kekaisaran untuk Kaisar Romawi Suci, beserta ahli astrologi kerajaan Jendral Wallenstein, suatu jabatan yang ia pegang hingga akhir hayatnya. Kepler juga seorang profesor matematika di Universitas Graz. Karir Kepler juga bersamaan dengan karir Galileo Galilei. Pada awal kariernya, Kepler adalah asisten Tycho Brahe.

Tycho Brahe (Astronom atau Astrolog, dan Alkimiawan)

Tycho Brahe (lahir di Knudstrup, Denmark, 14 Desember 1546, meninggal di Praha, Bohemia (sekarang Ceko), 24 Oktober 1601 pada umur 54 tahun). Ayah Brahe bangsawan tinggi, penasehat raja, gubernur kaya raya yang mendiami Puri Halsingborg dan menguasai  jalan laut ke Laut Baltik. Terkenal sebagai astronom atau astrolog (kedua bidang ini belum dibedakan waktu itu) dan alkimiawan. Ia memiliki sebuah observatorium yang dinamai Uraniborg, di Pulau Hven, di Selat Øresund yang menjadi "lembaga penelitian" awalnya.

Kamis, 18 September 2014

Asal-usul Nama Lumajang

Nama Lamajang atau sebutan kuno untuk Lumajang pertama kali dipakai dalam Prasasti Mula Malurung yang betahun 1177 saka atau 1255 masehi. Dalam prasati ini disebutkan bahwa Nararya Sminingrat telah memerintahkan 6 orang putranya menjadi juru atau raja-raja bawahan, seperti Nararya Murdhaya atau Sri Kertanegara di Daha (Kediri), Nararya Turuk Bali yang memerintah bersama suaminya Jayakatwang di Glang-glang, Nararya Ratnaraja di Morono, Nararya Ranajaya di Hring, Nararya Shabajaya di Lwa, Nararya Kirana di Lamajang, dan Nararya Kulup Kuda di Madura. Prasasti Mula Malurung ini adalah prasasti paling awal dimana nama Lamajang (nama kuno untuk Lumajang) pertama kali dikenal secara resmi. Namun kita tidak mengetahui banyak apa yang terjadi pada masa Nararya Kirana memerintah, karena tidak ada sumber-sumber lain yang mendukungnya. Di samping prasasti ini nama Lamajang disebut juga dalam Babad Pararaton maupun Babad Negarakertagama dimana Lamajang Tigang Juru merupakan wilayah kekuasaan Arya Wiraraja sebagai penasihat utama wangsa rajasa dan pendiri Majapahit.

Peta Lumajang

Rabu, 17 September 2014

Kesenian Khas Lumajang (Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang)

      Lumajang sebagai daerah yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah dari Kerajaan Lamajang tentunya menyimpan sebuah kesenian yang menjadi khas dari Lumajang. Ada beberapa kesenian yang dimiliki oleh Lumajang. Kesenian ini pula yang menemani peristiwa dan cerita sejarah di Lumajang. Pada postingan kali ini saya akan menampilkan 3 kesenian yang dimiliki oleh Lumajang, yaitu ada Jaran Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang.
             Dibawah ini akan saya jabarkan mengenai kesenian yang sudah disebutkan di atas.

Foto-foto Reruntuhan Candi Agung di Randuagung, Lumajang

Kabupaten Lumajang dikenal mempunyai banyak peninggalan bersejarah yang luar biasa banyak, dimana hampir semua wilayah Kecamatan mempunyai situs-situs yang bersejarah misalnya di Situs Biting, Situs Pra Sejarah di Kandangan (Kecamatan Senduro), Situs Watu Lumpang di Dusun Watu Lumpang, Kecamatan Gucialit, Candi Agung di Kecamatan Randu Agung, Situs Tegal Randu di Kecamatan Klakah, Situs Candi Gedong Putri di desa Klopo Sawit Kecamatan Candi Puro. Situs-situs ini sampai sekarang masih berserakan dan meminta perhartian lebih intens karena ancaman alaman dan ulah tangan manusia.

Gambar 1
Reruntuhan Candi Agung di Randuagung, Lumajang