Senin, 07 Oktober 2013

Jepara Di Bawah Pimpinan Ratu Kalinyamat (1546 -1579)

I. Peranan Jepara dalam bidang Politik dan Ekonomi
Adanya sungai-sungai besar yang mengalir ke pantai utara membuat Jepara menjadi suatu wilayah yang stategis dalam mengekspor hasil-hasil Sumber daya alam pedalaman seperti beras, gula, madu, kayu, kelapa bahkan palawija. Letaknya dalam teluk yang memungkinkan kapal-kapal besar berlabuh ke daerah ini dan menjadikan Jepara salah satu bandar terpenting dalam jalur perdagangan Maluku bahkan Malaka. Ditambah dengan kesuburan daerah hinterland (pedalaman), semua itu memungkinkan Jepara menjadi bandar yang memegang peranan besar. Pengangkutan barang-barang yang dilakukan, bukan hanya berasal dari pedagang-pedagang lokal, tetapi juga berasal dari edagang Asia, dan Eropa. Sehingga Jepara menjadi pelabuhan yang semakin ramai di jamannya.

Dalam bidang pertahanan dan politik sendiri, pelabuhan Jepara sering juga melakukan ekspedisi-ekspedisi penyebrangan Laut Jawa yang bertujuan meluaskan kekuasaan ke Bangka bahkan Kalimantan. Keadaan pelabuhan yang ramai seperti ini menjadi keuntungan bagi kemajuan Demak. Dan disini demak juga banyak berperan dalam pembuatan kapal sehingga Demak sendiri dapat memanfaatkan kapal-kapal untuk tujuan perdamaian bahkan perang.

II. Peranan Ratu Kalinyamat dalam perebutan Tahta di Kerajaan Demak
            Letak Kerajaan Kalinyamat menurut cerita keratonnya terdapat di dekat dengan Laut itu terbukti dengan ditemukan Siti Inggil/ Bekas Keratonnya di Desa Kriyan yang tidak jauh dari dua Desa yang dahulunya adalah laut/teluk yaitu Desa Teluk Kulon dan Desa Teluk Wetan. Meski kini tidak kelihatan bahwa Desa Teluk Kulon dan Desa Teluk Wetan bekas laut tetapi jika tanah kedua desa tersebut digali hingga 3 meter akan ditemukan batu karang, pasir laut, hingga kerang-kerang laut maka terbukti bahwa desa ini bekas laut/teluk. Hal itu terjadi kepada setiap warga Desa Teluk Wetan dan Desa Teluk Kulon setiap membuat sumur pasti menemukan pasir laut, kerang-kerang laut, hingga batu karang laut. Ratu Kalimanyat dalam berbagai sumber disebutkan sebagai anak dari Sultan Trenggana, dalam serat Kandhaning Ringgit Purwa yaitu : Sultan Trenggana mempunyai lima orang putera (1) Retna Kenya menikah dengan Pangeran Sampang, (2) Retna Kencana menikah dengan kiayi Wintang atau disebut juga pangeran Kalinyamat atau Pangeran Hadiri, (3) Retna Mirah menikah dengan Pangeran Riyo, (4) Putri, (5) Pangeran Prawata.
            Sepeninggalan Pati Unus, perebutan tahta dan peperangan terjadi secara berkepanjangan, ini karena Pati Unus meninggal pada usia masih muda dan belum punya keturunan. Dua orang yang tepat dalam mendudukinya yaitu Pangeran Sekar yang dari segi usia lebih tua dan merasa lebih berhak atas tahta namun dilahirkan dari istri ketiga Raden Patah dan Sultan Trenggana yang lebih muda dan lahir dari istri pertama Raden Patah, oleh karena itu Sultan Trenggana lebih merasa berhak menduduki tahta. Akhirnya Pangeran Prawata, putera pangeran Trenggana, membunuh pangeran Sekar agar ayahnya dapat dinobatkan menjadi raja, hingga kelak Pangeran Prawata bisa menjadi raja pengganti. Arya penangsang, putera dari pangeran Sekar berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya, sehingga ia berusaha menumpas keturunan Sultan Trenggana.
Kerajaan Demak, tampaknya belum memiliki sistem pewarisan tahta yang pasti. Oleh karena itu, Arya penangsang merasa berhak atas tahta Demak. Akhirnya pada tahun 1549, Sunan Prawata dan permaisurinya  dapat dibunuh  oleh  Arya Penangsang. Terbunuhnya Sunan Prawata semakin memperkuat keinginan Arya  Penangsang untuk menjadi raja dengan cara merebut kekuasaan di  Demak. Untuk mencapai tujuannya, ia  berusaha untuk menyingkirkan  pesaing-pesaingnya yang lain, terutama kerabat terdekatnya. Sasaran pembunuhan berikut  adalah Pangeran Hadiri, menantu Sultan Trenggana. Karena Pangeran  Hadiri mempunyai peluang cukup kuat untuk menduduki tahta kerajaan,  sehingga dia harus disingkirkan. Peristiwa pembunuhan Pangeran Hadiri  terjadi ketika Pangeran Hadiri mengantarkan isterinya, Ratu Kalinyamat  untuk minta  keadilan kepada Sunan Kudus atas kematian saudaranya  Sultan Prawata. Dalam perjalanan  pulang dari Kudus, mereka dihadang  oleh Arya penangsang yang membawa 40 orang abdi. Arya penangsang  dan pengikutnya menyerang dengan serempak dan Prajurit Kalinyamat bercerai-  berai . Pangeran Hadiri meninggal karena dibunuh oleh Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat merasa sakit hati dan dendam atas kematian saudara dan suaminya.

III. Ratu Kalinyamat Bertapa
                        Sepeninggalan saudara dan suaminya, dia bertapa dalam keadaan telanjang dan berjanji tidak akan mengkhiri pertapaannya sebelum ada orang yang bersedia dan mampu membunuh Arya Penangsang. Sebagaimana yang dikisahkan oleh babad tanah Jawi yang berbunyi “Mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang minangka tapih remanipun kaore”. Dalam menyusun hasil karyanya, Babad Tanah Jawi memang seringkali menggunakan bahasa lambang dan kiasan. Kebiasaan seperti itu ada hubungannya dengan sifat masyarakat Jawa pada masa lalu yang sangat senang dengan olah rasa. Namun cita-cita Arya Penangsang tidak tercapai dalam menduduki tahta Demak, karena pada tahun 1549 dia dibunuh oleh Pangeran Hadiwijaya,penguasa Pajang, adik ipar Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin raja Hadiwijaya. Meskipun demikian, Hadiwijaya tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormati Dan Hadiwijaya pun memberikan otonomi penuh pada daerah yang sebelumnya dijanjikan Ratu Kalinyamat apabila ada yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Karena Sultan Hadiwijaya sibuk berkonsolidasi untuk mendapatkan pengakuan dari penguasa dari daerah lain.

IV. Kepemimpinan Ratu Kalinyamat di Jepara
1.1  Bangkitnya Jepara dan masa keemasan
Akhirnya Ratu Kalinyamat menjadi pemimpin di Jepara menggantikan suaminya pada tahun 1546. Sultan Pajang sibuk berkonsolidasi dengan daerah-daerah yang akan ditaklukannya, maka Jepara membangun pemerintahan kembali dan bangkit dari keterpurukan ekonomi. Hanya berkisar 3 tahun dibawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara telah pulih kembali dan kembali menjalin hubungan dengan Ambon untuk memerangi Portugis maupun suku Hative di Maluku.
     Melalui kerjasama dengan Ambon, Johor,  Maluku, Banten dan Cirebon, Jepara bangkit dengan pengembangan disektor Perdagangan dan Angkatan Laut. Meski pada hakikatnya Jepara merupakan bagian dari Kesultanan Demak, tapi secara de facto Jepara memiliki kekuasaan dan kewibawaan paling tinggi. Pada waktu itu Kesultanan Demak dipimpin oleh Pangeran Pangiri, putra bungsu Sultan Trenggana. Tapi pengaruh Demak tidaklah sehebat pengaruh Jepara. Hal ini disebabkan karena Jepara sangat kuat dalam bidang ekonomi dan militer.         Tahun 1550 Sultan Johormmeminta bantuan untuk mengusir kaum kafirin Portugis yang berusaha menguasai Malaka. Tanpa ragu, Ratu Kalinyamat mengirim armadanya. 200 kapal persekutuan muslim, 40 kapal dari Jepara yang mengangkut 4000 sampai 5.000 prajurit bersenjata. Namun pasukannya gagal. Walaupun pernah mengalami kegagalan, tetapi Ratu Kalinyamat masih tetap berkuasa dan tetap berusaha membangun serangan pada portugis di Malaka. Sekitar tahun 1573 Ratu Kalinyamat mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menggempur Malaka melawan Portugis, namun lagi-lagi dalam pertempuran itu pihak Portugis berhasil merebut kapal Jawa yang penuh dengan bahan makanan, sehingga bala tentara dari Ratu Kalinyamat kekurangan bekal dan berangsur-angsur kekuatannya melemah.
     Pengiriman Ekspedisi tersebut membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah sosok pemimpin wanita yang tangguh, dan berkuasa. Walau dia gagal dalam misinya namun orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya, disebutkan dalam bukunya De Couto yang menyebutkan Rainha de Jepara, sembora poderosa e rica, yang artinya : Ratu Jepara, Seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Juga disebutkan dalam sumber Portugis sebagai Kranige dame yaitu seorang wanita pemberani.
     Kebesaran dan kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak pula pada daerah-daerah yang mampu dipengaruhinya, dalam naskah Banten disebutkan bahwa kekuasaannya sampai pada daerah Banten.
1.2  Meninggalnya Ratu Kalinyamat dan masa Kemunduran Jepara
        Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579. Ia dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan. Sepeninggalannya Jepara dipimpin oleh putra angkatnya. Namun pemerintahan yang dijalankan oleh putra angkatnya tidak begitu mempunyai pengaruh, sehingga askar Mataram pada tahun 1599 telah menghancurkan kota Jepara. Jepara mengalami kehancuran secara politik maupun ekonomi. Serangan  Laskar Mataram juga telah merusak bentangan sawah yang luas dan disinyalir ketika itu juga Laskar Mataram juga menghancurkan istana ratu Kalinyamat.



Created By: Siti Hassanah

1 komentar: