Sabtu, 03 Oktober 2015

PETA (Pembela Tanah Air)

Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA (郷土防衛義勇軍 kyōdo bōei giyūgun) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.
Tentara PETA telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia.
Bendera PETA.png
Bendera yang digunakan Batalion PETA

Latar Belakang
Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran "Asia Raya" pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).
Pendirian PETA didasarkan pada maklumat Osamu Seirei Nomor 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara ke-16, Letnan Jenderal Kumakichi Harada. Osamu Seirei No 44, 3 Oktober 1943 berisikan mengenai Pembentukan Pasukan Sukarela untuk membela Pulau Jawa dengan status :
  1. Kesatu, Tentara Pembela Tanah Air (PETA), terdiri dari warga negara yang asli
  2. Kedua, Tentara Pembela Tanah Air (PETA), dilatih oleh tentara Jepang
  3. Ketiga, Tentara Pembela Tanah Air (PETA), bukan milik organisasi manapun, langsung dibawah Panglima Tentara Jepang
  4. Keempat, Tentara Pembela Tanah Air (PETA), sebagai tentara teritorial yang berkewajiban mempertahankan wilayahnya (syuu)
  5. Kelima, Tentara Pembela Tanah Air (PETA), siap melawan sekutu

Pengumuman mengenai pembentukan PETA itu dinyatakan bahwa seluruh anggotanya, baik prajurit maupun perwira terdiri dari bangsa Indonesia sendiri. Pasukan PETA akan dibentuk pada setiap Syu (Keresidenan) untuk membela daerah tersebut. Penyebarluasan berita pembentukan PETA dan syarat-syarat menjadi anggota PETA ternyata mendapat perhatian besar dari masyarakat, khususnya di Jawa. Penyebabnya karena PETA tidak terlalu mementingkan tingkat pendidikan seperti yang di haruskanHeiho, tetapi lebih mengutamakan kecakapan memimpin dan mengatur rombongan.
Mengenai umur hanya disebutkan untuk calon Komandan Peleton harus berumur dibawah 30 tahun dan untuk calon Komandan Regu dan Prajurit harus di bawah 25 tahun. Namun, mereka yang diterima menjadi Komandan Batalyon adalah tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh kuat pada suatu daerah tertentu seperti tokoh-tokoh agama, guru dan sebagainya. Para calon perwira dilatih di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai mulai bulan Oktober 1943, dan selanjutnya pada bulan April, bulan Juli 1944, dan seterusnya. Mereka dibagi dalam tiga kelompok, yaitu calon Komandan Batalyon (Daidanco), Komandan Kompi (Gudanco), dan Komandan Peleton (Syudanco). Angkatan pertama menyelesaikan latihan dan dilantik pada bulan Desember 1943.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/a/a4/Peta_ri.jpg/
Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944
Jepang mencoba untuk menarik hati masyarakat Indonesia untuk mendapatkan bantuan dalam mengalahkan negara lain di perang Asia Timur. dengan upaya yang di lakukan ini tentunya membuat Jepang kemudian membentuk satu organisasi yaitu PETA (pembela tanah air). 3 oktober 1942 menjadi moment yang kemudian pemerintahan Jepang menunjuk Gatot Mangukupraja sebagai pendiri organisasi ini. tujuannya adalah untuk membuat rakyat Indonesia berfikir jika Organisasi ini asli dari anak bangsa.
Sebagai organisasi yang di bentuk oleh Jepang tentunya memiliki tujuan. Tujuan tersebut adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di Lautan Pasifik untuk membela Indonesia dari serangan Blok Sekutu. Namun, selain itu pembentukan organisasi ini sebagai strategi jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme untuk memberikan kesan jika ini organisasi di bentuk oleh Indonesia. 
Namun, dengan adanya PETA membuat organisasi ini kemudian berkembang dengan pesat dan di manfaatkan oleh Indonesia sebagai media untuk meraih kemerdekaan. Organisasi ini di ikuti oleh para pelajar yang di siapkan sebagai tentara Jepang. Selain itu pasukan ini hanya membantu untuk melawan pihak sekutu di perang Asia Pasifik bukan sebagai pasukan resmi. Di antara prajurit yang ada, membuat Soedirma sebagai mantan guru di Muhammadiyah sebagai orang yang berpengaruh di masa revolusi. 
Dengan adanya PETA membuat beberapa tingkat pangkat dalam organisasi ini:
  1. Daidanco (komandan batalyon) merupakan pegawai pemerintahan, pemimpin agama, pamng praja, politikus dan penegak hukum
  2. Cudanco (komandan kompi) merupakan guru dan juru tulis
  3. Shodanco (komandan peleton) pelajar dari sekolah lanjutan pertama dan atas
  4. Budanco (komanda regu) merupakan pemuda yang pernah bersekolah dasar
  5. Giyuhei (prajurit sukarela) pemuda yang belum pernah bersekolah

Dengan terbentuknya PETA membuat para anggotanya kecewa karena Jepang yang selalu berjanji untuk membuat masa depan yang lebih cerah, tinggi namun hanya membuat rakyat Indonesia hanya menderita. Dengan kondisi ini kemudian terjadi pemberontakan pada 14 februari 1945 dengan di pimpin oleh Supriyadi. Namun pada tanggal 18 agustus 1945, tentara Daidan Jepang untuk menyerah dengan memberikan senjata, dan esoknya Jepang meninggalkan Indonesia. Dengan adanya Sejarah PETA ini membuat perjuangan yang di berikan sangat luar biasa.
Di seluruh wilayah yang didudukinya, Jepang menderita kekalahan yang mengejutkan, dan menjadi lemah. Mereka ingin sekali memberi dukungan pada prajurut mereka dengan para pemuda Indonesia yang tidak pernah mendapat pendidikan Belanda dan dengan demikian tidak memiliki perasaan pro Barat. Secara teoritis, orang Indonesia yang sederhana, tidak berpendidikan dan bersifat kekanak-kanakan itu akan mudah diperlakukan sesuai kehendak Jepang. Mereka akan diindoktrinasi untuk membenci Barat dan dilatih bagaimana bertempur.
Komando Tinggi Jepang menyetujui pembentukan PETA, agar mempersiapkan penduduk asli untuk melawan Sekutu seandainya invasi mereka berlangsung. Jauh lebih baik, demikian pikir para Jenderal Jepang itu, darang bangsa Indonesia yang tertumpah daripada darah bangsa Jepang.
Bagi Soekarno, PETA merupakan kesempatan bagi rakyat yang tidak terlatih menjadi tentara yang andal. Untuk pertama kali bangsa Indonesia belajar menggunakan senapan, untuk mempertahankan dirinya sendiri. Mereka akan diajari disiplin militer, dilatih perang gerilya, bagaimana menghadang musuh, bagaimana menembakan senapan dalam posisi merangkak, bagaimana merakit granat buatan sendiri dengan menggunakan tempurung yang diisi bensin. Mereka berlatih bagaimana berperang melawan musuh- siapapun musuh yang mereka hadapi.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1f/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Indonesische_jongens_tijdens_hun_soldatentraining_door_de_Japanners_TMnr_10001989.jpg/
Pemuda Indonesia dalam pelatihan di Seinen Dojo yang kemudian menjadi anggota PETA
Komando Tinggi Jepang meminta Soekarno untuk mencari calon-calon perwira. Dia segera memanfaatkan kesempatan ini. Argumentasinya, bagwa seseorang tidak akan secara sukarela mempertahankan negerinya, kecuali dia seorang patriot yang penuh semangat. Perasaan kebencian terhadap Sekutu yang akan ditanamkan Jepang harus diperkuat dengan perasaan cinta kepada Tanah Air yang sifatnya positif sebagaimana yang diajarkannya.
Setelah diyakinkan seperti itu, Komando Tinggi Jepang meminta Soekarno untuk memberikan dan menjamin nama-nama orang yang memiliki kesetiaan terhadap Tanah Air.
Soekarno pun memilih para pemimpin seperti Gatot Mangunpraja, seorang pemberontak PNI yang bersamanya dipenjara di tahun 1929. Soekarno juga memilih orang-orang muda yang dapat dikendalikannya dan nantinya dapat menjadi pahlawan-pahlawan revolusi. Soekarno lah yang pada akhir 1943 mengusulkan orang-orang yang nantinya menjadi kolonel dan jenderal dalam Tentara Nasional Indonesia.

Pemberontakan Batalion Peta Di Blitar
Tanggal 14 Februari 1945 dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena saat itu akan ada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota PETA yang lain akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan. Tujuannya adalah untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain.
Walaupun rencana pemberontakan telah dipersiapkan secara baik, akan tetapi terjadi hal yang tidak diduga. Tiba-tiba pimpinan tentara Kekaisaran Jepang memutuskan membatalkan pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Selain itu, Kempetai (polisi rahasia Jepang) ternyata sudah mencium rencana aksi Shodancho Supriyadi dan kawan-kawan. Supriyadi pun cemas dan khawatir mereka ditangkap sebelum aksi dimulai.
Shodancho Supriyadi beserta para komandan dan anggota PETA di Blitar juga dihadapkan pada posisi sulit. Apabila terus melanjutkan perlawanan, mereka akan kalah karena jumlah mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan jumlah tentara Kekaisaran Jepang. Namun, jika perlawanan dibatalkan pun tentara Kekaisaran Jepang sudah mengetahui rencana aksi mereka, sehingga kemungkinan besar para pemberontak akan ditangkap, lalu dijatuhi hukuman yang sangat berat, yakni hukuman mati.
Sebenarnya, banyak yang menilai rencana aksi pemberontakan PETA belum siap, salah satunya Sukarno. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup seru, Bung Karno sempat meminta Shodancho Supriyadi dan para perwira PETA yang lain siap memikul tanggung jawab maupun akibat apabila aksi pemberontakan PETA ternyata gagal total.
Tanggal 13 Februari 1945 malam hari, Shodancho Supriyadi memutuskan bahwa pemberontakan tetap harus dilaksanakan. Siap atau tidak siap, inilah saatnya tentara PETA membalas perlakuan tentara Jepang. Shodancho Supriyadi juga berharap bahwa pengorbanan darah dan nyawa para pemberontak PETA akan mengobarkan semangat perjuangan segenap bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, meskipun semua orang sudah tahu mereka akan kalah menghadapi tentara Kekaisaran Jepang.
Tidak semua anggota Daidan Blitar ikut memberontak. Shodancho Supriyadi meminta para pemberontak tidak menyakiti sesama anggota PETA walaupun tak mau memberontak. Akan tetapi, semua orang Jepang wajib dibunuh.
Tepat tanggal 14 Februari 1945 dini hari pukul 03.00 WIB, pasukan PETA pimpinan Shodancho Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin. Akan tetapi ternyata kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana aksi pemberontakan PETA. Dalam aksi yang lain, salah seorang bhudancho (bintara) PETA merobek poster bertuliskan "Indonesia Akan Merdeka" dan menggantinya dengan tulisan "Indonesia Sudah Merdeka!".
Pemberontakan PETA sendiri akhirnya tidak berjalan sesuai rencana. Shodancho Supriyadi gagal menggerakkan satuan lain untuk memberontak dan rencana pemberontakan ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang. Dalam waktu singkat, Jepang mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan PETA. Para pemberontak pun terdesak. Difasilitasi oleh Dinas Propaganda Jepang, Kolonel Katagiri menemui Shodancho Muradi, salah satu pentolan pemberontak, dan meminta seluruh pasukan pemberontak kembali ke markas batalyon.
Shodancho Muradi mengajukan syarat kepada Kolonel Katagiri, yakni:
  1. Senjata para pemberontak tidak boleh dilucuti Jepang; dan
  2. Para pemberontak tidak boleh diperiksa atau diadili Jepang.

Kolonel Katagiri pun setuju. Dia memberikan pedangnya sebagai jaminan. Ini adalah isyarat janji seorang samurai yang harus ditepati. Akan tetapi, janji Katagiri ternyata tidak bisa diterima oleh Komandan Tentara Jepang XVI. Mereka malah mengirim Kempetai untuk mengusut pemberontakan PETA. Jepang pun melanggar janjinya.
Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta. Sebanyak enam orang divonis hukuman mati di Ancol pada tanggal 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.
Akan tetapi, nasib Shodancho Supriyadi tidak diketahui. Shodancho Supriyadi menghilang secara misterius tanpa ada seorang pun yang mengetahui kabarnya. Sebagian orang meyakini Shodancho Supriyadi tewas di tangan tentara Jepang dalam pertempuran. Sebagian orang juga ada yang meyakini Shodancho Supriyadi tewas diterkam binatang buas di hutan-hutan sekitar Kota Blitar. Sebagian orang pun ada yang meyakini Shodancho Supriyadi melakukan ritual dengan cara menceburkan dirinya ke dalam kawah Gunung Kelud dekat Kota Blitar. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa Shodancho Supriyadi sesungguhnya masih hidup hingga saat ini, hanya saja keberadaannya tidak diketahui atau sering hidup di alam ghaib. Namun satu hal yang pasti, hilangnya Shodancho Supriyadi adalah suatu misteri sejarah nasional Indonesia yang belum jelas hingga saat ini.
Setelah Indonesia merdeka, Shodancho Supriyadi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia yang pertama. Namun, Supriyadi ternyata tidak pernah muncul lagi untuk selama-lamanya, hingga saat pelantikan para menteri. Kemudian, saat para menteri dilantik oleh Presiden Soekarno, tertulis "Menteri Pertahanan belum diangkat". Akhirnya, karena Supriyadi benar-benar tidak muncul lagi, Presiden Soekarno pun mengangkat dan melantik Imam Muhammad Suliyoadikusumo sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia.
http://hansauto.net/wp-content/uploads/2015/09/
Pemerintah Republik Indonesia pun mengakui jasa-jasa Supriyadi dan akhirnya mengangkatnya sebagai salah satu pelopor kemerdekaan serta sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Untuk mengenang perjuangan pemberontakan tentara PETA pimpinan Shodancho Supriyadi, tepat di lokasi perlawanan didirikan Monumen PETA yang terdiri atas tujuh buah patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang, di mana patung Shodancho Supriyadi diletakkan tepat di tengah monumen sebagai pemimpin pemberontakan PETA.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1dZp3maI2pdrpvHzUbsCnMAI1VPTnulCI9SNSJqs_eso7Z-HYkITE6uW4oSP73XTrct_G27KT7kVEBKvJvg_2A4-nTb89R1xDq_6jAznX4xAR44P2LaP_v6y-xre2pOQXS0DYAUZ2j0s/s1600/
Monumen Pemberontakan PETA di Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi
Adapun tugu tempat pengibaran bendera merah-putih oleh Shodancho Parto Hardjono saat terjadinya pemberontakan PETA kini dikenal sebagai "Monumen Potlot". Monumen Potlot sendiri diresmikan di Kota Blitar pada tahun 1946 oleh Bapak TNI (Tentara Nasional Indonesia) Panglima Jenderal Besar Soedirman.

Pembubaran PETA
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya. Presiden Republik Indonesia yang baru saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. Sehari kemudian, tanggal 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuan PETA.

Peran Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar